
MOJOKERTO โ Kisah Prabu Brawijaya V masuk Islam kembali ramai diperbincangkan. Raja terakhir Majapahit itu kerap disebut berpindah keyakinan dari Hindu-Buddha ke Islam setelah berdialog dengan Sunan Kalijaga.
Narasi ini hidup kuat dalam tradisi tutur Jawa, babad, dan cerita dakwah Wali Songo, meski tidak seluruhnya didukung sumber sejarah primer.
Kerajaan Majapahit sendiri dikenal sebagai kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang berdiri sejak 1293 M hingga runtuh sekitar 1527 M.
Wilayah kekuasaannya membentang luas, dari Jawa hingga Nusa Tenggara. Puncak kejayaan Majapahit terjadi pada masa Raja Hayam Wuruk.
Sementara Prabu Brawijaya V, yang kerap disebut sebagai raja terakhir, memerintah sekitar tahun 1468โ1478 M.
Dalam berbagai kisah yang berkembang, Prabu Brawijaya V masuk Islam disebut terjadi di masa akhir kekuasaan Majapahit, saat pengaruh Islam mulai menguat di pesisir Jawa.
Cerita ini banyak dikaitkan dengan peran Sunan Kalijaga sebagai tokoh sentral dalam proses spiritual sang raja.
Baca Juga : Rahasia Weton Pon 2026 Terbongkar
Pertemuan Prabu Brawijaya V dan Sunan Kalijaga
Menurut narasi yang beredar, upaya mengajak Prabu Brawijaya V memeluk Islam telah dilakukan sejak awal oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena sang raja belum memiliki niat yang kuat untuk berpindah keyakinan.
Ajakan serupa juga datang dari Raden Patah, putra Prabu Brawijaya V yang kelak menjadi Sultan Demak.
Meski demikian, Prabu Brawijaya tetap teguh memeluk agama leluhurnya. Barulah ketika Sunan Kalijaga dilibatkan, pendekatan dakwah dilakukan dengan cara yang berbeda.
Sunan Kalijaga dikenal menggunakan bahasa simbol, sastra, dan metafora dalam berdakwah. Dalam Serat Darmogandul, diceritakan bahwa dialog antara Sunan Kalijaga dan Prabu Brawijaya V berlangsung dalam nuansa kebatinan yang mendalam.
Pendekatan inilah yang disebut-sebut mampu meluluhkan hati sang raja.
Baca Juga : Ramalan Primbon Jawa Tahun Kuda Api 2026
Proses Masuk Islam Versi Tradisi Tutur
Masih berdasarkan kisah yang berkembang di masyarakat, sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat, Prabu Brawijaya V menjalani prosesi pensucian diri.
Ia disebut mencukur rambut dan mandi besar sebagai simbol pembersihan lahir dan batin sebelum memeluk Islam.
Setelah itu, Prabu Brawijaya V mengucapkan dua kalimat syahadat dengan bimbingan Sunan Kalijaga. Sejak saat itulah ia diyakini resmi memeluk agama Islam.
Kisah ini menjadi salah satu narasi penting dalam cerita Islamisasi Jawa, khususnya yang berkaitan dengan runtuhnya Majapahit dan bangkitnya Kesultanan Demak.
Dimakamkan Secara Islam di Trowulan
Cerita berlanjut dengan wafatnya Prabu Brawijaya V tak lama setelah memeluk Islam. Ia disebut meninggal dunia karena sakit dan dimakamkan dengan tata cara Islam di kawasan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Lokasi makamnya dipercaya berada di sebelah timur laut Kolam Segaran, salah satu situs penting peninggalan Majapahit.
Hingga kini, kompleks makam yang diyakini sebagai makam Prabu Brawijaya V ramai diziarahi peziarah dari berbagai daerah.
Tradisi ziarah tersebut menjadi bukti kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap kisah Prabu Brawijaya V masuk Islam.
Baca Juga : 5 Weton Berpotensi Jadi Jutawan 2026
Antara Sejarah dan Babad
Sejarawan menilai kisah ini perlu ditempatkan secara proporsional. Narasi Prabu Brawijaya V masuk Islam lebih banyak bersumber dari babad dan tradisi tutur yang ditulis ratusan tahun setelah masa Majapahit.
Sementara sumber primer abad ke-15 seperti prasasti dan naskah sezaman tidak secara eksplisit mencatat peristiwa tersebut.
Meski demikian, kisah ini tetap memiliki nilai penting sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat Jawa.
Ia merefleksikan masa transisi besar, ketika Majapahit melemah dan Islam mulai menguat sebagai kekuatan politik dan budaya baru di Nusantara.
Prabu Brawijaya V, dalam cerita ini, menjadi simbol pergulatan batin, perubahan zaman, dan peralihan peradaban yang hingga kini masih terus dibicarakan.(*)

Leave a Reply